Kata Bijak Bahasa Jawa untuk Menyemangti Hari-Hari

1. Berani Hidup Susah
Witing tresno jalaran soko kulino. Witing mulyo jalaran wani rekoso.
Ungkapan witing tresno jalaran soko kulinoadalah pepatah arif orang-orang zaman dahulu. Maksudnya kira-kira adalah bahwa cinta itu tumbuh lantaran ada kebiasaan.
Banyak orang kemudian memodifikasi ungkapan ini dengan pokok bahasan yang lain tapi masih punya rima akhir yang serupa. Salah satunya adalah witing mulyo jalaran wani rekoso. Artinya adalah kemakmuran itu timbul karena berani bersusah dahulu.
2. Kelilipan
Wong ki yo ngingeti ngisor barang. Ojo Ndangak ae, nek kelilipen kapok.
Terkadang, ada orang yang terlena dengan rejeki yang melimpah tanpa mau melihat yang sedang berada di bawahnya. Mungkin harta melimpah membuatnya lupa akan saudara sesamanya yang sedang kesusahan.
Jika ada kasus seperti ini, biasanya orang Jawa akan mengeluarkan petuah. Terkadang mereka menyelipkan hal-hal yang lucu agar tetap bisa santai. Lihat saja kata mutiara bahasa Jawa lucu di atas.
3. Menurunkan Ego
Wong menang iku wong sing bisa ngasorake priyanggane dhewe.
Tak ada habisnya jika membahas siapa yang menang siapa yang kalah. Sejatinya kalah menang itu bukan tentang pencapaian. Melainkan tentang ketentraman batin.
Orang yang kuat adalah yang bisa melawan dirinya sendiri. Siapa yang bisa menurunkan egonya, dialah yang menang.
4. Selalu Bersyukur
Sing wis lunga lalekno, sing durung teko entenono, sing wis ono syukurono.
Petuah wong Jowo yang nyeleneh memang memiliki daya magis yang bisa memicu tawa. Apalagi yang menggunakan istilah-istilah yang unik dan khas kedaerahan.
Tulisan di atas memang sederhana, tapi justru ini yang sering dilalaikan orang-orang. Kamu bisa gunakan tulisan ini sebagai gambar lucubahasa Jawa untuk dipasang di media sosial.
5. Petunjuk
Gusti Allah paring pitedah bisa liwat bungah, bisa liwat susah.
Dakwah tidak melulu berisi hal-hal yang kaku. Contohnya adalah cara Wali Songo menyebarkan Islam di nusantara. Mereka menggunakan kearifan lokal untuk mengajarkan falsafah kehidupan yang agamis.
Demikianlah yang kemudian ditirukan orang-orang daerah. Mereka menggunakan bahasa-bahasa daerah dengan pemilihan kata yang apik.


0 Comments